Penolakan jadi do’a
Sampai saat ini, hanya judul itu yang terfikirkan. Penolakan??? Dalam setiap kehidupan manusia mengalami pilihan antara menerima atau menolak, ini terjadi di setiap aspek kehidupan. Mulai dari bangun tidur saja… kita sudah dihadapkan dalam pilihan itu, menerima untuk bangun dan melanjutkan aktivitas, atau menolak untuk bangun dan melanjutkan tidur.
Do’a .. dalam kamus bahasa Indonesia berarti permohonan (harapan, permintaan, pujian) kpd Tuhan, yang pasti sesuatu yang kita inginkan dan selalu kita sampaikan saat lagi bermesraan dengan Sang Pencipta. Dan berharap itu bakal terkabulkan, dan kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Kalau antara penolakan dan doa disatukan…. Ini bagai antonim (dalam pelajaran bahasa Indonesia dulu yang saya ingat sih)
, yang singkatnya, apa yang tidak kita harapkan terjadi pada kita malah ternyata jadi do’a bagi diri kita sendiri, dan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini bukan masalah bangun tidur lagi, ini masalah cita-citaku…..ingin jadi presiden / profesi. Apa yang ingin kita geluti di masa depan nanti. Ladang amal dan penghasilan kita dimasa depan.
Dulu setiap ditanya apa cita-citamu??? Jawabannya selalu berubah tergantung mood saat itu, tapi satu yang tidak pernah saya ucapkan adalah sebagai pengajar, entah guru ataupun dosen. Alasannya satu, saya hanya takut apa yang pernah saya lakukan selama jadi siswa ataupun mahasiswa dilakukan oleh siswa atau mahasiswa saya nanti andaikan saya jadi pengajar. Saya akui semenjak masih duduk di bangku sekolah…., kenakalan, keusilan, mbandel, rame, entah dengan teman ataupun guru pernah ku lakukan. Bikin teman sekelas jadi nangis dan malu pun pernah saya lakukan. Juga pernah bikin guru matematika kelimpungan dan malu di depan kelas gara-gara salah jawaban, dan ku protes abis-abisan.
Dengan alasan-alasan itulah akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi pengajar, tak bisa dibayangkan kalau menemui anak seperti diriku. Tapi Allah berkehendak lain.., ternyata apa yang tak diinginkan malah terjadi, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, demi mengisi waktu dan mencari penghasilan, saya dapat tawaran mengajar, awalnya di kampus tempatku kuliah, setelah 3 sampai 4 bulan ada tawaran mengajar juga di salah satu SMK Negeri, saya iseng masukin lamaran dan ternyata setelah proses tes dan tes , akhirnya saya diterima, kaget , ga nyangka, bingung, itu yang saya rasakan saat itu. Dukungan penuh dari orang tua untuk menerima pekerjaan itu, akhirnya saya tekuni juga pekerjaan itu. Dan sampai sekarang profesi mengajar di dua tempat itu masih menjadi mata pencaharian saya dan ladang ibadah saya.
2 alasan terkuat yang membuatku bertahan dan maju terus di profesi ini….
- Membahagiakan orang tua. Karena jelas kuat sekali dukungan dari orang tua, setiap saya ingin meninggalkan profesi ini….saya lihat raut kecewa dalam wajah beliau.
- Dalam profesi ini, insyaAllah bisa sekalian ibadah. Seperti tulisan salah satu teman Sadat Nurza
Read Full Post | Make a Comment ( 26 so far )Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, “Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar.” Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.
maaf, sudah sudah lama tidak ada postingan baru
RUWET
sekedar curhat….. lagi ruwet
kangen posting, tapi kenapa sekali posting malah curhat gini, maaf buat pembaca yang tidak berkenan.
Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )minta maaf
pengen nulis “MAAF”, sebuah kata yang simple tapi terkadang kita susah untuk kita ucapkan dikala kita sedang diselimuti rasa gengsi, sok, dan apa saja lah. Sebuah kata yang sangat mulia jika kita mau menyampaikannya ketika kita berbuat salah, menyakiti hati seseorang, melupakan janji kita, menggangu orang lain,….. dan terkadang kita menyepelekan kata maaf, “dia nya ja..ga papa kok…ga mesti minta maaf”, nah tuh…. Salah besar, ya kalau dianya ikhlas menerima perlakuan kita, kalau ga…. Bisa dendam tuh, dan itu sangat berat. Apa salahnya sih ucapkan kata MAAF, biarpun terkadang kata itu tak bisa mengobati… tapi setidaknya kita sudah ada usaha untuk meminta maaf.
Beberapa menit yang lalu, ku telah selesai membaca sebuah tulisan dari Bu Tita yang di posting di dudung yang berjudul ” Indahnya Meminta Maaf a la si Kecil”, sebuah tulisan tentang kisah pribadi dari Bu Tita, yang intinya..
‘ Bu Tita memarahi putrinya yang bernama Syanita karena waktu dimandiin, dia malah mainan sabun. Putrinya marah, dan menangis. “Ibu nakal!, Ibu nakal”, “iya ibu nakal”. Syanita berhenti menangis, siang harinya tidak mau tidur siang, makan sorepun susah, tidak mau ikut shalat maghrib. Seusai shalat maghrib, bu Tita mencoba meminta maaf pada putrinya, “Ani, maafin ibu ya…, tadi ibu bikin Ani sedih ya? Ani sedih dipukul tangannya sama ibu?” si Ani pun mengangguk kemudian memeluk ibu, ibu berkata lagi “Ani maafin ibu ya!” kali ini Ani pun menangis. Bu Tita mengajak Syanita untuk tidur, karena seharian belum istirahat, ternyata Ani sudah sangat ingin tidur, tapi di hatinya masih ada beban, dan dia merasa nyaman setelah mendengar kata MAAF dari ibunya.
Dari sini terlihat, sungguh indah kata maaf, Ani yang tadinya masih dendam dengan ibunya, walaupun si ibu sudah mengakui salah. Dengan sebuah kata maaf, Ani pun bisa tersenyum lepas, tanpa dendam.
–> Lanjutan crita dari Bu Tita.
Paginya syanita menjadi anak yang susah diatur, ga tahu kenapa. Bu Tita jengkel. Sampai sore hari, syanita pun tidak mau ikut shalat maghrib, tapi dia terus memperhatikan bu Tita yang sedang sholat. Bu Tita selesai sholat syanita berlari menghampiri ibunya dan berkata “Ibu, maafin Ani ya…!” . sungguh bahagia hati ibunya, si kecilnya telah belajar meminta maaf dari dirinya.
Oleh karena itu, jangan pernah sungkan katakan maaf,ketika kata maaf itu diperlukan. siapapun dia, dimanapun kita, dan kapanpun itu. Minta maaf, salah satu usaha kita dalam memperbaikin hubungan dalam kehidupan.
Memaafkan pun tak kalah indahnya dari meminta maaf. Sungguh indah jika kita dapat berlapang dada memaafkan kesalahan orang lain, demi ketenangan dan kedamaian dalam diri kita sendiri.
Iya ga sih???
NB : iyem minta maaf jika ada kata-kata ataupun perbuatan iyem yang tak enak dihati pembaca. MAAFIN IYEM YA…..!!!! (insyaAllah iyem akan berusaha memaafkan jika ada yang tak enak dihati iyem, semoga…bisa… Amin..!!) **berasa lebaran ja nie**
Read Full Post | Make a Comment ( 20 so far )remaja yg ingin bebas
sebenarnya judul ini sudah ada di draft dari dlu tapi baru sempat mengeksekusinya sekarang. dari judulnya saja sudah dapat diketahui kalau kali ini ku ingin bercerita, bercerita tentang kehidupan seorang remaja. sebut saja namanya MELATI (maaf untuk yg namanya sama… tidak ada maksud untuk menyinggung, hanya pinjam nama saja
)
melati (nama samaran) seorang remaja berumur 17 sampai 18 tahun, seorang anak dari keluarga sederhana, 5 bersaudara dan dia anak ke-3. kakak pertamanya sudah menikah, memiliki satu anak. kakak keduanya juga sudah menikah, kedua adik laki-lakinya masih duduk di bangku sekolah.
melati tinggal di sebuah desa yang menurutku lumayan tentram. tinggal bersama kedua adiknya dan sekitar rumahnya adalah rumah saudaranya. orang tuanya merantau ke luar kota untuk mencari nafkah. Pendidikannya hanya sampai menengah pertama. karena rasa bosannya yang hanya menunggu rumah dan merawat adik-adiknya dia sempat kerja dirumah tetangganya sebagai pembantu rumah tangga, pernah juga sebagai penunggu toko. dan dia gadis desa yang masih sangat lugu. dan sepertinya orang tua melati kurang memperhatikan anak-anaknya, dan jarang memberikan masukan, nasehat, dorongan, seringnya menegur anak dengan keras.
cerita ini dimulai saat kakak kedua melati sudah menemukan calon suami dan sudah merencanakan pernikahan, terlihat si melati mulai beda, dia mulai sering uring-uringan. entah karena ingin sperti kakaknya menemukan calon suami nya ato karena hal lain yang tak ku ketahui. hari-hari persiapan pernikahan kakaknya, dia jadi saudara yang super cuek masalah pernikahan kakaknya, sangat jarang membantu persiapan pernikahan. malah sering mengurung diri di kamar atau kadang dengan sengaja memperlihatkan cuek nya terhadap persiapan pernikahan.
(more…)
« Entri Sebelumnya








