history cabut gigi

bercerita tentang suka duka iyem saat mendekati detik-detik menjelang pencabutan gigiku gerahamku, proses pencabutan dan setelah pencabutan.

6 hari sebelum ku mengantarkan gigiku untuk dieksekusi, ku sudah memeriksakan kondisi gigi, yang sedang membengkak, oleh bu dokter diriku dapat vonis 4 gigi harus dicabut. ampun….sebanyak itu kah, dan separah itukah gigiku. setelah 6 hari proses pengobatan, ku beranikan diri kembali ke rumah sakit untuk melaksanakan prosesi cabut gigi, dan ku putuskan hanya satu yang akan dieksekusi.

hari rabu, paginya ku masih melaksanakan tanggungjawabku dalam praktikum, sambil menanti pengganti jaga, sekitar jam 11.00 wib ku melaju ke rumah sakit, dengan tujuan pasti. sampai di depan poli gigi…. ku dengar namaku disebut…dan  ku pun masuk dengan perasaan was was yang tidak karuan.

b = “gimana mbak??? ada keluhan apa dengan giginya…??? yang sakit mana???”

i = “kmaren habis bengkak, dan giginya juga dah bolong dok. kemaren sudah di cek sama dokter **** katanya harus dicabut”

b= “sudah siap cabut mbak??”  bu dokter meraba gigi iyem menggunakan sebuah alat yang panjang dengan ujung bulat pipih.

i = “kalau sudah tidak bengkak, siap deh dok”  sambil tiduran pasrah dikursi yang ku lihatnya ja bikin deg-deg’an, lampu bulat yang ada dikursi  itu diarahkan ke mukaku.

b = “dimulai ya….”

i = “sakit ga dok?”  diriku mulai basa-basi sambil ngurangin rasa takut.

b = “tenang saja…yang penting mbaknya nyantai saja dan yakin”  kata-kata bu dokter ini mengisyaratkan kalau ada kemungkinan bakal sakit, bukannya makin tenang tapi makin takut saja diriku. mulutku pun mulai membuka, bu dokter mulai meraba lagi bagian yang akan dieksekusi, menggunakan alat yang sama. kulirik dikit apa yang akan dilakukan bu dokter itu, ternyata bu dokter mengambil sebuah alat suntik yang tidak begitu terlihat dengan jelas bentuknya.

tiba-tiba dari atas ada tangan memegang daguku dan sedikit mengangkatnya, ternyata ini membantu bu dokter supaya lebih mudah melakukan eksekusi. suntikanpun mulai mendarat di gusi-gusi sekitar gigi yang akan diangkat, (dengan cepat datang perasaan takut sakit, karena menurut pengalaman yang sudah ngalami, ini adalah saat paling sakit saat proses pencabutan) tapi……setelah suntikan mendarat dan dicabut lagi..ada perasaan aneh dalam hatiku,, kok rasanya hanya seperti digigit semut dan semutnya memasukkan sedikit cairan ke dalam gusi. ga terasa sakit seperti apa yang pernah dicritakan padaku. ternyata suntikan tidak hanya sekali, suntikan dilakukan berkali-kali di sekeliling gusi tersebut, saat proses penyuntikan terdengar ada suara dari suntikan tersebut saat suntikan mendarat digusi tapi setelah cairan bius itu masuk sudah tak ada suara.

setelah entah berapa kali suntikan (tak ku hitung jumlahnya karena rasa takut menyelimuti diriku, konsentrasi ku pun pecah entah kemana saja) suntikanpun selesai, ku merasakan tak ada rasa pada gigiku yg sebelumnya berasa lumayan senat-senut, dan sariawan yang ada dibibirku pun hilang sekejap perihnya (lhawong ya dikasih obat bius kok ya…hmm). bu dokter mulai melengkapi peralatan dalam genggaman tangannya, sempat ku lihat seperti penjapit gorengan dalam bentuk kecil 😀 (hampir sama dengan penjapit dalam tas peralatan kerja bapak, peralatan reparasi jam) dan satu alat lagi yang kulihatnya tidak begitu jelas, malah hampir tak terlihat, apakah itu semacam *linggis* (bhs.jawa) dalam bentuk mini, entahlah.

peralatan-peralatanpun satu persatu masuk kedalam mulut dan mendarat di gigi yang akan dieksekusi, entah apa yang mereka lakukan didalam, yang pasti kurasakan gigiku diotak atik, diangkat, sempat ku rasakan gigiku berontak tak mau diangkat, tapi peralatan bu dokter dan tangan bu dokter berusaha memaksa, ada kemungkinan terjadi perundingan diantara gigiku dan peralatan-peralatan itu sekejap gigi pun luluh untuk diangkat dari tempat tinggalnya selama ini.

gigi terlepas, tak ku rasakan apa-apa tapi….bu dokter ternyata lagi sibuk menghentikan keluarnya darah yang keluar dari tempat tinggal si gigi. sempat ku berkumur tapi hanya sebentar dan selanjutnya bu dokter menyuruhku menggigit dua buar gulungan kasa yang sudah berlumuran obat luka betadine (sebut merek dikit), rasanya ga karuan.pahit.

bu dokter = “mbak itu digigit sampai satu jam ya…”

hatiku bicara = duh 1  jam…????? ampun…rasanya ga karuan. ya…demi kesembuhan luka yang ditinggalkan si gigi, ku harus tahan  1  jam.

semua prosesi cabut gigi selesai, tak kurasakan sakit sedikitpun, malah…..obat biusnya masih berasa. gusi dan sebagian bibirku mati rasa.

du dokter = “setelah 1 jam itu boleh dibuang,  jangan banyak kumur ya mbak, jangan di pakai buat makan dulu, minimal seharian ini lah, biar darahnya mampet”

hatiku bicara = makan bubur lagi……. (doh)

keluar dari ruangan yang kuanggap mengerikan itu, ku menuju apotik dan loket pembayaran, menunggu di loket pembayaran, ku merasakan pengen muntah gara-gara masih ada kasa dan obat luka yang ku gigit, obat luka sebagian ketelan, ini yang membuatku hamppir muntah di loket pembayaran. malu…dilihatin bapak-bapak yang sama-sama ngantri di loket pembayaran. tapi apa boleh buat. itu yang kurasakan, untung tidak beneran muntah. prosesi transaksi pembayaranpun selesai, obat juga sudah diambil, dan perayuan meminta surat pernyataan dokterpun juga sudah ku lakukan dan ku dapatkan, lumayan buat bolos kuliah siang itu, tak bisa ku bayangkan menahan sakit di dalam kelas..

sampai dikos, masih menahan rasanya kasa dan obat luka yang membuatku mual-mual. satu jam berlalu, kasapun segera ku buang, tak tahan ku terus-terusan harus merasakan obat yang ga banget deh. tapi dengan perginya kasa tersebut ternyata pergi juga efek obat bius, dan rasa nyeri, senat-senut pun mulai muncul kembali, ku tahan-tahan…. ku coba buat tidur, tapi tak bisa. ku pikir dengan minum obat rasa sakitnya akan berkurang karena tadi ku lihat ada asam mefenamat yang lumayan buat ngilangin nyeri. yang jadi masalah…seharian perutku belum diisi apa-apa, kalau ku paksakan minum obat tanpa makan, yang ada malah perutku ikut-ikutan masuk rumah sakit. ku putuskan lebih baik nahan nyeri gigi. mau keluar buat nyari isi perutpun ku tak mampu. dan akhirnya hanya tiduran menahan sakit sambil sms’an.

setelah kejadian ini, ku hilangkan pikiraku tentang bagaimana tersiksanya saat pencabutan gigi, karena saat pencabutan gigi tidak ku rasakan sakitnya, hanya saja setelah efek biusnya hilang itulah puncak rasa sakitnya. dan sekarang sudah plong deh akhirnya lepas juga. satu ganjalan besar….masih ada 3 gigi lagi….!!!!! dan apakah bakalan ada history cabut gigi ke 2, ke 3, ke 4…… diriku pun belum bisa memastikan.

(tulisan ini ku tulis 3 hari setelah prosesi pencabutan dan habisnya obatku)

Advertisements

17 thoughts on “history cabut gigi

  1. wah,, koq banyak bener yang harus dicabut.. saya juga mau ke dokter gigi tapi koq rasa males selalu menghampiri. Kalau udah ga sakit jadi lupa lagi mau kesana. Akhirnya sampai sekarang belum ke dokter gigi.. xixixixi

    • itu lah yg saya alami dari dulu, menyepelekan kesehatan gigi…
      dan akhirnya…. 4 gigi….!!!
      tapi sepertinya 5 deh, yang satu luput.

  2. thanks dah berbagi. sy blum pernah cabut gigi geraham, seri si sudah waktu kecil. skrg ngalamin sakit gigi geraham yg rasanya ampun ampunan. klo lg sakit gini pengen rasanya cabut gigi. tp masih maju mundur.. krn takut sakit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s