ratu rumahku #curhat

.

.

seorang wanita terhebat yang ada dalam hidup saya tak lain adalah ibu. wanita hebat yang telah melahirkan saya dengan harapan menjadi hebat pula. Ibu,,,, ah siapa sih yg tahu bagaimana perjuangann ibu. bagaimana susah dan senangnya ibu kita sendiri. Dari kita lahir, ibu sudah direpotkan dengan merawat dan membesarkan kita.  mulai beranjak besar, ibu selalu sabar dengan  tingkah laku kita, tangisan kita. tak pernah putus kasih sayang ibu pada kita.

Masa SMA, satu masa dimana saya memulai hidup jauh dari keluarga, sebagai anak kos (tapi tiap seminggu sekali pulang). Awal jadi anak kos mulai merasakan perasaan yang nyampur-nyampur, tapi entah kenapa perasaan senang yang lebih mendominasi. Senang bisa bebas mengekspresikan diri di luar lingkungan keluarga, dan tetangga kampung. Dengan jadi anak kos, saya pun lebih banyak bisa menghabiskan waktuku di lingkungan sekolah, seperti organisasi, lab, bahkan hanya sekedar nongkrong berbagi cerita dan canda dengan teman.  Perasaan ini pun sempat tertanam pada diri saya dimasa-masa kuliah. Jadi anak yang jarang di rumah, yang sering bosan di rumah, yang jarang memikirkan bagaimana dengan ibu… mengurusi rumah dan keluarga sendiri, padahal beliau memiliki anak perempuan yang sudah waktunya menggantikan tugas-tugas ibu dirumah.

Sempat saya mendapat sebuah tanggungjawab menggantikan ibu dirumah. Sebulan ibu pergi ke pulau sebrang (kalimantan). Tugas saya sebagai anak perempuan satu-satunya dirumah benar-benar dites pada sebulan itu. Mulai dari mengurus rumah, masak buat adek sama bapak, nyuci, mengurus adek yang masih sekolah, juga tugas saya sebagai mahasiswa semester akhir (kuliah, skripsi),bahhkan jaga toko ibu, semua tugas itu harus dapat saya kerjakan.  Ternyata tidak hanya beban fisik saja, pikiranpun begitu. Bangun pagi, sarapan untuk adek sekolah harus siap, siang hari berurusan dengan kampus (kuliah dan skripsi) dan selalu terfikirkan di rumah “adek sudah pulang sekolah belum, sudah makan belum, bapak sama adek suka tidak dengan yang saya masak”, sore hari harus bersih-bersih, cucian, dan memutar otak lagi hanya untuk memikirkan “besok masak apa, supaya bapak sama adek makannya banyak”. malam hari berusaha menyelesaikan skripsi. Kegiatan dan fikiran-fikiran itu tiap hari selama sebulan itu yang mau ga mau selalu jadi teman setia saya. Belum lagi saat uang belanja yang ditinggalin ibu habis, saya pun harus berusaha mencari waktu luang untuk buka toko ibu, dan berharap mendapat penghasilan banyak untuk uang belanja. (Sebenarnya saya bisa minta uang sama bapak, tapi saya yang memang susah kalau minta uang sama bapak, karena dari kecil terbiasa minta uang sama ibu dan selalu takut minta sama bapak). Saat jaga toko ibu, disini saya mulai merasakan sedikit resahnya ibu saat toko begitu sepi pembeli. Terkadang hasil buka toko seharian hanya cukup untuk uang belanja hari itu dan uang saku adek. Dan saya pun mengalami hari dimana saya jaga toko, tak ada satupun pembeli yang mampir. Dan saat itulah saya beranikan diri untuk minta uang sama bapak. Berat jadi ibu, padahal itu hanya secuil dari beban yang ibu rasakan selama ini. Tapi ibu tetap kuat.

Sekarang, saya yang mulai masuk dunia baru ini… dunia dimana saya harus benar-benar jadi dewasa. Sudah bukan saatnya lagi mengandalkan orang tua, malah harus sebaliknya… saya harus bisa diandalkan orang tua. Dari dulu saya sangat ingin keluar dari wilayah Solo dan sekitarnya, bahkan keluar dari pulau jawa, mencari pengalaman dan penghasilan sebanyak-banyaknya.  Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini semua pikiran tentang pergi jauh dari rumah itu seakan mulai hilang, dan bahkan saya paksakan untuk pergi menjauh. Beberapa hari terakhir ini, saya mulai banyak di rumah, dan ortupun mulai berbagi keluh kesah dengan anaknya ini. Setiap malam, di waktu-waktu istirahat keluarga ibu selalu curhat, berbagi keluh kesah, bercerita dan mengutarakan apa yang menjadi keinginan beliau. bahkan bapak yang memang sangat jarang mau curhatpun mulai mau mengeluarkan keluh kesah beliau. Mulai saat itu, saya berusaha membuang keinginan kuat untuk pergi sangat jauh dari rumah, walaupun sebenarnya semua itu jadi beban sendiri buat saya, yang sampai saat ini belum ada pekerjaan yang pasti.

Ibu selalu ingin mendampingi anak-anaknya menatap masa depan yang indah, menghabiskan hari-hari beliau dengan bercanda dengan anak-anaknya. dan ibu selalu memberikan tanda-tanda itu dengan selalu mendekati saya dan bahkan selalu tidur di samping saya tiap malam hari saat saya pulang ke rumah. tapi apa yang saya perbuat, keegoisan yang selalu saya lakukan, saya selalu memilih jauh dari rumah.  tak memikirkan kekhawatiran yang dirasakan ibu, padahal ibu selalu ingin tahu bagaimana keadaan anaknya.

ibu maafkan aku.

teruntuk ibuku tercinta.

Advertisements

12 thoughts on “ratu rumahku #curhat

  1. Jadi pengen nangis… .Ane merantau semenjak lulus SMP… .tapi dengan merantau An ejadi tahu kehidupan… .Ane ingat kalimat pertama seorang kawn sebelah kamar… Podo-podo nang paran, Ayo padha kekancan… .paseduluran tenanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s