Penolakan jadi do’a

guru

guru

Sampai saat ini, hanya judul itu yang terfikirkan. Penolakan??? Dalam setiap kehidupan manusia mengalami pilihan antara menerima atau menolak, ini terjadi di setiap aspek kehidupan. Mulai dari bangun tidur saja… kita sudah dihadapkan dalam pilihan itu, menerima untuk bangun dan melanjutkan aktivitas, atau menolak untuk bangun dan melanjutkan tidur.

Do’a .. dalam kamus bahasa Indonesia berarti permohonan (harapan, permintaan, pujian) kpd Tuhan, yang pasti sesuatu yang kita inginkan dan selalu kita sampaikan saat lagi bermesraan dengan Sang Pencipta.  Dan berharap itu bakal terkabulkan, dan kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kalau antara penolakan dan doa disatukan…. Ini bagai antonim (dalam pelajaran bahasa Indonesia dulu yang saya ingat sih) 😀 , yang singkatnya, apa yang tidak kita harapkan terjadi pada kita malah ternyata jadi do’a bagi diri kita sendiri, dan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini bukan masalah bangun tidur lagi, ini masalah cita-citaku…..ingin jadi presiden  / profesi. Apa yang ingin kita geluti di masa depan nanti. Ladang amal dan penghasilan kita dimasa depan.

Dulu setiap ditanya apa cita-citamu??? Jawabannya selalu berubah tergantung mood saat itu, tapi satu yang tidak pernah saya ucapkan adalah sebagai pengajar, entah guru ataupun dosen.  Alasannya satu, saya hanya takut apa yang pernah saya lakukan selama jadi siswa ataupun mahasiswa dilakukan oleh siswa atau mahasiswa saya nanti andaikan saya jadi pengajar. Saya akui semenjak masih duduk di bangku sekolah…., kenakalan, keusilan, mbandel, rame,  entah dengan teman ataupun guru pernah ku lakukan. Bikin teman sekelas jadi nangis dan malu pun pernah saya lakukan. Juga pernah bikin guru matematika kelimpungan dan malu di depan kelas gara-gara salah jawaban, dan ku protes abis-abisan.

Dengan alasan-alasan itulah akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi pengajar, tak bisa dibayangkan kalau menemui anak seperti diriku. Tapi Allah berkehendak lain.., ternyata apa yang tak diinginkan malah terjadi, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana,  demi mengisi waktu dan mencari penghasilan, saya dapat tawaran mengajar, awalnya di kampus tempatku kuliah, setelah 3 sampai 4 bulan ada tawaran mengajar juga di salah satu SMK Negeri, saya iseng masukin lamaran  dan ternyata setelah proses tes dan tes , akhirnya saya diterima, kaget , ga nyangka, bingung, itu yang saya rasakan saat itu. Dukungan penuh dari orang tua untuk menerima pekerjaan itu, akhirnya saya tekuni juga pekerjaan itu. Dan sampai sekarang profesi mengajar di dua tempat itu masih menjadi mata pencaharian saya dan ladang ibadah saya.

2 alasan terkuat yang membuatku bertahan dan maju terus di profesi ini….

  1. Membahagiakan orang tua. Karena jelas kuat sekali dukungan dari orang tua, setiap saya ingin meninggalkan profesi ini….saya lihat raut kecewa dalam wajah beliau.
  2. Dalam profesi ini, insyaAllah bisa sekalian ibadah. Seperti tulisan salah satu teman Sadat Nurza

Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, “Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar.” Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.

Advertisements

26 thoughts on “Penolakan jadi do’a

  1. Halo, Bu Guru. Teman saya ada yang menjadikan blog-nya sebagai media mengajar. Mumpung murid-muridnya pada keranjingan internet (baca: fesbuk) mereka disuruh mengerjakan PR yang soal-soalnya hanya tertulis di blog. Saya pikir, seru juga itu. Dah pernah nyoba?

    • di tempat saya ngajar malah sudah e-learning… semua soal… ngumpulin… dan ngasih nilai sudah dalam satu system OL….
      setiap siswa punya blog masing”… buat laporan tugas-tugas mereka….
      jadi… blog pribadinya guru ga keganggu 😀 .

  2. Tidak semua orang bisa dan mampu untuk menjadi pengajar. Saya sendiri pernah mencoba menjadi pengajar dalam sesi pengenalan alat baru. Dan yang menjadi was-was dalam hati adalah karena kita tidak paham dengan materi yang akan kita bahas. Jadinya, kadang seperti jaka sembung kena lombok. Gak nyambung bok 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • wah….. ini juga saya alami waktu ngajar di kampus…..
      gara” dibuat bingung sama mahasiswa…. akhirnya ga nyambung 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s