Penculikan untuk sebuah perjalanan (Kebun teh Kemuning, Candi Cetho, Candi Saraswati, Candi Kethek)

Minggu, 20 November 2013. bertepatan dengan dengan hari Pahlawan, di sekolah tempat saya mengajar mengadakan upacara memperingati hari pahlawan dan pastinya semua guru dan semua murid harus datang mengikuti upacara meskipun kita harus mengorbankan hari liburan kita yang seharusnya dapat dihabiskan dengan bermalas-malasan di rumah atau berkumpul dengan teman-teman, keluarga atau siapa pun yang pasti melupakan kepenatan di hari-hari aktif selain hari minggu.

Sepertinya  saat itu anak-anak (siswa dimana aku jadi wali kelasnya ext : santos , dina ,  ema , abinda , ahmad , galih, hakim . andre , farid , kurnia adi , irfan , dkk ) sudah merencanakan untuk melakukan perjalanan liburan ke arah Kemuning Karanganyar, saya bisa pastikan kalau mereka jauh-jauh hari sudah membuat rencana karena di hari Sabtu nya saya sudah dibujuk anak-anak untuk mengikuti acara liburan mereka. Sampai hari minggunya seusai upacara saya kembali dibujuk dan akhirnya terbujuk oleh roro vike untuk ikut juga. Beruntungnya saya karena kebiasaan saya yang selalu membawa  pakaian ganti didalam jok motor tiap berangkat kerja jadi untuk langsung pergi liburan masih menggunakan seragam bukan masalah buatku.

Setelah saya perjelas tujuan mereka, hanya satu tujuan mereka ya… kebun teh kemuning. Okelah perjalanan dimulai dari jam 09.00 wib ditambah nunggu ngumpul, totalin sendiri.  Motor kita pacu tidak terlalu kencang dan tidak terlalu pelan, jalan pun kita ikuti jalan utama tanpa mencari jalan-jalan alternatif. Sampai di kebun teh sekitar jam 11.00 wib ditambah menunggu motor yang masih belum kuat jalan nanjak. Karena kebun teh kemuning daerah pegunungan yang pasti jalannya pun tidak perlu ditanyakan lagi, berkelok dan menanjak itu sudah pasti.

Satu kata untuk kebun teh kemuning “IJO”, sejuk kalau lihat ijo-ijo dihamparan tanah seluas itu. Maksud hati ingin teriak-teriak sekeras-kerasnya, melepas penat yang terasa namun apadaya perut tak mendukungnya, keroncongan iya. Beberapa saat kita disana melakukan kegiatanyang tidak begitu jelas pada ngapain, sebagian nongkrong-nongkrong saja, sebagian berulah saja, sebagian menghilang mengabadikan gambar-gambar disana.

Kita mulai bosan, pulang sayang karena hari masih siang. Akhirnya kita menentukan untuk melanjutkan perjalanan.  Perjalanan lanjut menuju keatas kemuning,  candi cetho tujuan selanjutnya. Jalan menuju kemuning yang menanjak masih belum ada apa-apanya ketimbang jalan menuju candi cetho. motor yang benar-benar sehat saja masih harus menurunkan bawaan eh penumpang supaya bisa sampai di pintu masuk candi cetho. Tikungan jalannya pun lebih tajam, soo berhati-hatilah.

Candi cetho merupakan salah satu candi Hindu di Karanganyar. Candi yang katanya sudah pernah dilakukan pemugaran sehingga arsitektur candi cetho yang sekarang sudah ada perubahan dari yang aslinya. memasuki candi cetho kita harus membeli Tiket per orang 3000 rupiah. memasuki candi, pertama kali yang kita temui adalah tangga yang lumayan tinggi dan melewati 2 buah arca dari batu yang disebut sebagai Nyai Gemang Arum.. Candi cetho memiliki 11 teras, teras pertama berupa sebuah halaman. Namun di bagian selatan teras pertama ini dapat dijumpai sebuah bangunan semacam pendopo tanpa dinding, teras kedua berupa halaman dimana kita bisa melihat hamparan batuan yang tersusun membentuk sebuah gambar burung Garuda yang sedang terbang, ujung kedua sayap terdapat sebentuk sinar matahari, punggung gambar Garuda dijumpai batuan yang tersusun membentuk kura-kura, juga ada gambar sebuah segitiga, dan sebuah alat kelamin laki-laki atau yang disebut dengan Kalacakra. teras ketiga berupa 2 buah bangunan tanpa dinding dengan di dalamnya semacam meja batu untuk sesaji dengan relief orang, teras keempat berupa jajaran anak tangga, teras kelima berupa sepasang arca yang disebut dengan Bima sebagai penjaga pintu masuk teras 5, teras keenam berupa halaman, teras ketujuh berupa sebuah gapura dengan tangga batu yang diapit oleh sepasang patung Ganesha dan sebuah patung Kalacakra dan dijumpai sepasang bangunan pendapa tanpa dinding, teras kedelapan berupa sebuah tangga dari batu yang dijaga oleh sepasang arca dengan relief tulisan jawa, teras kesembilan berupa sepasang bangunan yang menghadap ke timur (atas) tepat di depan kedua ruangan itu juga terdapat sepasang bangunan sebelah kiri terdapat sebuah patung Sabdapalon, dan di dalam bangunan sebelah kanan terdapat patung Nayagenggong, teras kesepuluh berupa 6 buah bangunan, 3 di kanan dan 3 di kiri yang masing-masing saling berhadapan, teras kesebelas tersekat dengan sebuah dinding batu setinggi 1,6 m. di teras ini terdapat sebuah bangunan utama berupa ruangan tanpa atap berdinding batu dengan tinggi kurang lebih 2 meter.

Setelah mengitari teras terakhir dari candi cetho kita menuju ke sebelahnya candi cetho, akan ada papan penunjuknya kalau tidak salah itu menuju ke Barat dari candi cetho, hanya dengan turun 2 atau 3 teras akan ada pintu ke puri. Sebelum ke puri ada tiket 1000 rupiah perorang. memasuki puri saraswati kita diharuskan melepas alas kaki. suasananya adem karena ada air mancur yan mengitari patung saraswati. Tanpa ragu diantara kita ada yang tiduran ditengah-tengah halaman puri, bersih. Saraswati adalah nama seorang dewi dalam Hindu pasangan dari Dewa Brahma. Dewi Saraswati merupakan dewi ilmu pengetahuan dan seni. Dewi Saraswati digambarkan sebagai dewi cantik yang memiliki empat lengan.

Keluar dari halaman Puri Saraswati kita masih mengikuti jalan setapak yang masih sejalur dengan candi cetho dan puri saraswati, kita akan menemukan papan penunjuk menuju satu candi lagi yaitu Candi Kethek. Jalan menuju kesana masih jalanan alami, jadi berhati-hati saja saat hujan, jalanan bisa licin dan tanpa ada pagar pelindung, melewati hutan, maklumlah kaki gunung Lawu. sampai di candi kethek suasananya bener-bener sudah macam digunung, sepi, tenang, rindang, banyak pepohonan, segar udaranya. Saat itu hanya rombongan kita satu-satuya pengunjung disana dan kemudian disusul oleh tiga orang yang akan melakukan ibadah di candi kethek.  Baru sampai didepan candi kethek kita tidak langsung menuju candinya tapi ke samping candi ada pepohonan rindah dan dapat melihat pemandangan kota Surakarta dari sana, tiduran di rumput dan bercanda kita disana. Selanjutnya kita mendekati candi, kegiatan yang dilakukan di candi ya sama seperti sebelumnya, tiduran dan bercanda. Candi kethek masih sering digunakan untuk beribadah umat Hindu.  Usai bercanda kita pulang dan……………………………………………………….. sampai rumah.

Satu lagi yang kudapatkan dari perjalanan kali ini, menyadarkanku kalau aku punya keluarga baru, ada anak-anak yang meski kadang membuatku jengkel tapi banyak membuat saya tersenyum bahkan tertawa. Terima kasih untuk murid-muridku. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s