Tegukan kopi

Perjalananku diawali dengan segelas kopi penuh rasa. Teguk demi teguk rasa itu kunikmati, dan memang seharusnya aku nikmati.

tegukan kopi pertama, awal mulai perjalanan rasa, rasa ingin tahu / penasaran berkecamuk dalam dada. rasa dimana aku ingin lebih dan lebih mengenalnya, mengenal rasa selanjutnya. tegukan pertama ini tak pernah ingin kulewatkan nikmatnya, juga tak pernah terfikirkan olehku rasa apalagi yang akan ku rasakan selanjutnya, entah bahagia, entah sedih, entah tangisan, atapun tawa canda.

tegukan kopi kedua, mulai kurasakan manis, terasa seakan teguk demi teguk selanjutnya akan lebih manis lagi. tegukan kali ini kebahagian yang aku rasakan, tegukan penuh senyuman. Kebahagiaan dalam menikmati kehidupan dan semangat yang begitu membara menemaniku dalam perjalanan. tersenyum, tertawa aku dibuatnya. seakan aku dibisikkan cerita-cerita lucu dalam telingaku dan akupun tertawa riang. semangat yang begitu membara dalam melanjutkan kehidupanku, semangat dalam menjalani perjalananku, semangat mengisi kehidupanku dengan kesuksesan-kesuksesanku selanjutnya. Bagaikan melihat kedua orang tuaku tersenyum lebar depanku, melihat apa yang aku dapatkan dan beliau bangga.

tegukan kopi ketiga dan seterusnya, sejatinya kopi pun mulai terasa, kopi..iya kopi..pasti ada pahit yang tercampur disana. Terkadang terasa manis, terkadang terasa pahit. Tegukan kali ini ada rasa dimana sebuah semangat, bahagia, sedih bercampur menjadi rangkaian kehidupan yang lengkap. bagai kehidupan nyata seutuhnya. kadang aku tersenyum dibuatnya, tertawa, bersemangat menjalani kehidupan dengan manis yang terasa, tapi kadang aku bersedih, menangis, dan kacau dibuatnya karena menemukan rasa pahit didalamnya.

akan tetapi

tegukan kopi terakhir, tegukan dimana aku baru tersadar disana ada ampas kopi yang berkumpul dan sangat banyak, rasa yang pasti semua tahu bahwa rasa itu pahit. di tegukan terakhir ini tetap ingin kunikmati karena inilah perjalananku, meski pahit harus tetap kutelan. rasa terakhir dimana aku sangat merasakan rasa kehilangan, kehilangan rasa manis yang diberikan sebelumnya. dimana rasa manis yang diberikan di awal itu aku pun tak paham. ditegukan terakhir ini ya.. ya aku merasakan sangat kehilangan, aku kehilangan senyumanku, aku kehilangan semangatku. Jalani terus alur perjalanan ini, telan saja meski itu pahit dan menyisakan kesedihan. segelas kopi yang kau tahu berakhir dengan kepahitan tapi kau akan terus meneguk, gelas demi gelas kopi dalam hidupmu.

Berawal dari rasaku sendiri yang sedang beradu di dada, perasaan yang membuatku berubah menjadi orang lain, dan dari buku yang kubaca kemaren, Filosofi Kopi karya – Dee Lestari.

Advertisements

One thought on “Tegukan kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s