aku lulus…….!!!!!!!!

awal pekan ini, nonton televisi banyak berita tentang kelulusan anak sma/smk, karena memang awal pekan ini hasil ujian nasional mereka diumumkan. luapan kebahagiaan dan kesedihan mulai terlihat. yang seneng pada konvoi…. yang sedih pada nangis guling-guling ada pula yang pingsan. tapi ada satu sma yang khusyuk bersyukur atas kelulusan 100% sekolah mereka, dengan mengumumkan hasil kelulusan di masjid sekolah, sehingga tidak ada suasana corat coret, yang ada ungkapan rasa bersyukur atas doa-doa mereka yang telah dikabulkan. (sungguh indah jika ungkapan bersyukur dilakukan dengan menyebut nama Allah SWT dan bersyukur dihadapan-Nya).

lulus sma/smk adalah awal kita berjuang…. bagi yang tidak melanjutkan kuliah, lulus sma adalah awal perjuangan mencari pekerjaan, tes kerja sana sini, cari-cari lowongan kerja. tapi bagi yang mau kuliah,lulus sma awal dia berjuang untuk belajar lagi, belajar untuk menembus universitas negeri, ya… mentok-mentok ditolak negri…swasta lah  (seperti diriku…  😀  ). bebanpun semakin berat, sudah harus memikirkan arah tujuan masa depan kita.  tidak seperti waktu masih sekolah, maen, makan, tidur, belajar.  awal sma, awal kita membangun kedewasaan, sudah bukan anak-anak lagi, sudah tidak putih abu-abu lagi.  ada juga yang berpendapat, lulus sma siap-siap saja untuk dilamar.   🙂

jadi ingat masa-masa lulus smk dulu,

curhat ah….

menanti detik-detik kelulusan, ngumpul dengan teman-teman di laboratorium komputer,  ya karena ruangan memang di desaign kedap suara jadi dimanfaatkan saja dengan putar musik nyampur (ada rock, ada pop, ada dangdut pula) kuenceng…. mencoba mengurangi stress menanti pengumuman. pengumuman dibagikan, kita berkumpul dikelas dan menerima amplop pengumuman, alhamdulillah….ternyata AKU LULUS…!!!! keluar dari kelas, ku mulai melihat ekpresi dari teman-teman dari jurusan lain yang mengekspresikan kebahagiaannya, lucu….. ada yang nangis-nangis (padahal lulus), ada yang lepas baju dan teriak-teriak, ada yang berganti kaos dan lari-lari mengelilingi sekolah dengan teriak-teriak mengatakan AKU LULUS…!!!!! ada juga yang mengeluarkan senjata mereka, spidol + pilok, tapi….setiap ada yang corat-coret pakai pilok didalam sekolah, pak satpampun beraksi, ya akhirnya luapan anarkis coret-coretan itu dilakukan diluar lingkungan sekolah. padahal depan sekolahku dulu ada markas polisi (poltabes), “kenapa mereka tidak takut ya..???”  bagi yang tidak mau terkena aksi anarkis ini lebih baik berdiam diri didalam sekolah sampai keadaan mulai tenang.  sedikit saja keluar dari gerbang sekolah saat aksi coret-coretan, jangan harap terbebas dari semprotan, kenal ga kenal kena semprot.dan akhirnya diriku hanya berdiam didalam sekolah dengan beberapa teman, meluapkan kebahagiaan dengan main basket di bawah teriknya sinar matahari siang… sudah gosong jadi semakin gosong deh.

setelah pengumuman, ini adalah saatnya melihat suasana yang beda disekolah, karena sekolahku kejuruan…jadi banyak dari mereka yang lulus segera bersiap mencari pekerjaan. didalam kelas, di dalam perpustakaan, ada beberapa yang sibuk membuat surat lamaran yang banyak. amplop-amplop coklat besar mereka borong, kertas folio untuk menuliskan surat lamaran diborong juga, materai 6000 juga mulai banyak dicari, kartu kuning SKCK , nyiapin berlembar-lembar foto, fotocopy surat-surat sertifikat,dan beberapa syarat nglamar pekerjaan. perusahaan-perusahaan mulai berdatangan mencari calon pekerja bagi perusahaan mereka, mengadakan tes kerja mulai dari tes tertulis, tes fisik, tes wawancara. perjuangan mencari isi kantong baru dimulai. ingin rasanya ku ikuti semuua prosesi pasca kelulusan ini tapi orang tua memberikan jalan lain buat ku, perjuanganku bukan berjuang mencari kerja tapi berjuang mencari tempat belajar lagi.

curhat selesai,,,,’

jadi…. jalan mana yang akan kita ambil??  tau yang telah kita ambil?????

sebelum mengakhiri, ada pertanyaan yang tiba-tiba singgah dikepalaku.

tradisi coret-coret konvoi sebenarnya sejak kapan ya???

sapa yang mulai???

dan gimana sih awalnya dulu bisa ada konvoi coret-coretan gitu??????

Advertisements

membangun LTSP (Linux Terminal Server Project) di Ubuntu

LTSP (Linux Terminal Server Project) merupakan salah satu thin client support yang ada pada linux.  secara garis besar, model jaringan ini model jaringan dimana client-client yang digunakan tidak memerlukan harddisk. komputer client memerlukan sambungan jaringan ke komputer server, dengan sambungan ini maka client dapat dioperasikan. semua aplikasi yang ada pada komputer server terdapat juga pada komputer client.

dalam membangun  jaringan ini sebelumnya konfigurasi jaringan pada server sudah jalan, dan sudah terdapat DHCP server.

mulai installasi dan konfigurasi LTSP :

– instalasi LTSP server :

sudo apt-get install ltsp-server-standalone openssh-server thin-client-manager-gnome


– instalasi environment dari thin client :

sudo ltsp-build-client


-update chroot LTSP

sudo cp /etc/apt/sources.list /opt/ltsp/i386/etc/apt/

sudo chroot /opt/ltsp/i386


– melakukan update desktop system

sudo apt-get update

sudo apt-get upgrade


–  restart DHCP

sudo /etc/init.d/dhcp3-server restart


– update sshkeys

sudo ltsp-update-sshkeys


– pengenalan hardware NIC client ke servernya

cd /var/lib/tftpboot/ltsp/i386/
sudo touch lts.conf
gksudo gedit /var/lib/tftpboot/ltsp/i386/lts.conf

dan selanjutnya memasukkan spesifikasi NIC (isi sesuai nic yang digunakan) :

misal  –>

[00:40:f4:51:66:66]
XSERVER =
Gygabit
X_MODE_0 = 600X800
X_HORZSYNC = “30-70”
X_VERTREFRESH = “50-130”

– membuat user baru pada server yang selanjutnya user dan password tersebut digunakan untuk login client.

– pasang kabel jaringan

– setting bios client, pada first boot gunakan LAN sebagai booting pertama.

– restart komputer client,

– komputer client saat menyala akan mencari DHCP dari server, selanjutnya terkoneksi dengan LTSP,

– login client, masukkan user dan password yang sudah di tambahkan pada server.

– LTSP jadi.

selamat mencoba,…..

jika ada kurangnya mohon maaf…, yang nulis juga baru belajar..   🙂

tulisan ini adalah salah satu hasil realisasi dari penelitian yang telah saya posting sebelumnya

history cabut gigi

bercerita tentang suka duka iyem saat mendekati detik-detik menjelang pencabutan gigiku gerahamku, proses pencabutan dan setelah pencabutan.

6 hari sebelum ku mengantarkan gigiku untuk dieksekusi, ku sudah memeriksakan kondisi gigi, yang sedang membengkak, oleh bu dokter diriku dapat vonis 4 gigi harus dicabut. ampun….sebanyak itu kah, dan separah itukah gigiku. setelah 6 hari proses pengobatan, ku beranikan diri kembali ke rumah sakit untuk melaksanakan prosesi cabut gigi, dan ku putuskan hanya satu yang akan dieksekusi.

hari rabu, paginya ku masih melaksanakan tanggungjawabku dalam praktikum, sambil menanti pengganti jaga, sekitar jam 11.00 wib ku melaju ke rumah sakit, dengan tujuan pasti. sampai di depan poli gigi…. ku dengar namaku disebut…dan  ku pun masuk dengan perasaan was was yang tidak karuan.

b = “gimana mbak??? ada keluhan apa dengan giginya…??? yang sakit mana???”

i = “kmaren habis bengkak, dan giginya juga dah bolong dok. kemaren sudah di cek sama dokter **** katanya harus dicabut”

b= “sudah siap cabut mbak??”  bu dokter meraba gigi iyem menggunakan sebuah alat yang panjang dengan ujung bulat pipih.

i = “kalau sudah tidak bengkak, siap deh dok”  sambil tiduran pasrah dikursi yang ku lihatnya ja bikin deg-deg’an, lampu bulat yang ada dikursi  itu diarahkan ke mukaku.

b = “dimulai ya….”

i = “sakit ga dok?”  diriku mulai basa-basi sambil ngurangin rasa takut.

b = “tenang saja…yang penting mbaknya nyantai saja dan yakin”  kata-kata bu dokter ini mengisyaratkan kalau ada kemungkinan bakal sakit, bukannya makin tenang tapi makin takut saja diriku. mulutku pun mulai membuka, bu dokter mulai meraba lagi bagian yang akan dieksekusi, menggunakan alat yang sama. kulirik dikit apa yang akan dilakukan bu dokter itu, ternyata bu dokter mengambil sebuah alat suntik yang tidak begitu terlihat dengan jelas bentuknya.

tiba-tiba dari atas ada tangan memegang daguku dan sedikit mengangkatnya, ternyata ini membantu bu dokter supaya lebih mudah melakukan eksekusi. suntikanpun mulai mendarat di gusi-gusi sekitar gigi yang akan diangkat, (dengan cepat datang perasaan takut sakit, karena menurut pengalaman yang sudah ngalami, ini adalah saat paling sakit saat proses pencabutan) tapi……setelah suntikan mendarat dan dicabut lagi..ada perasaan aneh dalam hatiku,, kok rasanya hanya seperti digigit semut dan semutnya memasukkan sedikit cairan ke dalam gusi. ga terasa sakit seperti apa yang pernah dicritakan padaku. ternyata suntikan tidak hanya sekali, suntikan dilakukan berkali-kali di sekeliling gusi tersebut, saat proses penyuntikan terdengar ada suara dari suntikan tersebut saat suntikan mendarat digusi tapi setelah cairan bius itu masuk sudah tak ada suara.

setelah entah berapa kali suntikan (tak ku hitung jumlahnya karena rasa takut menyelimuti diriku, konsentrasi ku pun pecah entah kemana saja) suntikanpun selesai, ku merasakan tak ada rasa pada gigiku yg sebelumnya berasa lumayan senat-senut, dan sariawan yang ada dibibirku pun hilang sekejap perihnya (lhawong ya dikasih obat bius kok ya…hmm). bu dokter mulai melengkapi peralatan dalam genggaman tangannya, sempat ku lihat seperti penjapit gorengan dalam bentuk kecil 😀 (hampir sama dengan penjapit dalam tas peralatan kerja bapak, peralatan reparasi jam) dan satu alat lagi yang kulihatnya tidak begitu jelas, malah hampir tak terlihat, apakah itu semacam *linggis* (bhs.jawa) dalam bentuk mini, entahlah.

peralatan-peralatanpun satu persatu masuk kedalam mulut dan mendarat di gigi yang akan dieksekusi, entah apa yang mereka lakukan didalam, yang pasti kurasakan gigiku diotak atik, diangkat, sempat ku rasakan gigiku berontak tak mau diangkat, tapi peralatan bu dokter dan tangan bu dokter berusaha memaksa, ada kemungkinan terjadi perundingan diantara gigiku dan peralatan-peralatan itu sekejap gigi pun luluh untuk diangkat dari tempat tinggalnya selama ini.

gigi terlepas, tak ku rasakan apa-apa tapi….bu dokter ternyata lagi sibuk menghentikan keluarnya darah yang keluar dari tempat tinggal si gigi. sempat ku berkumur tapi hanya sebentar dan selanjutnya bu dokter menyuruhku menggigit dua buar gulungan kasa yang sudah berlumuran obat luka betadine (sebut merek dikit), rasanya ga karuan.pahit.

bu dokter = “mbak itu digigit sampai satu jam ya…”

hatiku bicara = duh 1  jam…????? ampun…rasanya ga karuan. ya…demi kesembuhan luka yang ditinggalkan si gigi, ku harus tahan  1  jam.

semua prosesi cabut gigi selesai, tak kurasakan sakit sedikitpun, malah…..obat biusnya masih berasa. gusi dan sebagian bibirku mati rasa.

du dokter = “setelah 1 jam itu boleh dibuang,  jangan banyak kumur ya mbak, jangan di pakai buat makan dulu, minimal seharian ini lah, biar darahnya mampet”

hatiku bicara = makan bubur lagi……. (doh)

keluar dari ruangan yang kuanggap mengerikan itu, ku menuju apotik dan loket pembayaran, menunggu di loket pembayaran, ku merasakan pengen muntah gara-gara masih ada kasa dan obat luka yang ku gigit, obat luka sebagian ketelan, ini yang membuatku hamppir muntah di loket pembayaran. malu…dilihatin bapak-bapak yang sama-sama ngantri di loket pembayaran. tapi apa boleh buat. itu yang kurasakan, untung tidak beneran muntah. prosesi transaksi pembayaranpun selesai, obat juga sudah diambil, dan perayuan meminta surat pernyataan dokterpun juga sudah ku lakukan dan ku dapatkan, lumayan buat bolos kuliah siang itu, tak bisa ku bayangkan menahan sakit di dalam kelas..

sampai dikos, masih menahan rasanya kasa dan obat luka yang membuatku mual-mual. satu jam berlalu, kasapun segera ku buang, tak tahan ku terus-terusan harus merasakan obat yang ga banget deh. tapi dengan perginya kasa tersebut ternyata pergi juga efek obat bius, dan rasa nyeri, senat-senut pun mulai muncul kembali, ku tahan-tahan…. ku coba buat tidur, tapi tak bisa. ku pikir dengan minum obat rasa sakitnya akan berkurang karena tadi ku lihat ada asam mefenamat yang lumayan buat ngilangin nyeri. yang jadi masalah…seharian perutku belum diisi apa-apa, kalau ku paksakan minum obat tanpa makan, yang ada malah perutku ikut-ikutan masuk rumah sakit. ku putuskan lebih baik nahan nyeri gigi. mau keluar buat nyari isi perutpun ku tak mampu. dan akhirnya hanya tiduran menahan sakit sambil sms’an.

setelah kejadian ini, ku hilangkan pikiraku tentang bagaimana tersiksanya saat pencabutan gigi, karena saat pencabutan gigi tidak ku rasakan sakitnya, hanya saja setelah efek biusnya hilang itulah puncak rasa sakitnya. dan sekarang sudah plong deh akhirnya lepas juga. satu ganjalan besar….masih ada 3 gigi lagi….!!!!! dan apakah bakalan ada history cabut gigi ke 2, ke 3, ke 4…… diriku pun belum bisa memastikan.

(tulisan ini ku tulis 3 hari setelah prosesi pencabutan dan habisnya obatku)